Dorong Pemahaman Demokrasi dan Pemilu, Bawaslu DIY Perdalam Melalui Diskusi Interaktif
|
YOGYAKARTA — Badan Pengawas Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta (Bawaslu DIY) kembali menggelar kegiatan edukatif melalui diskusi bertema pemilu dan demokrasi yang melibatkan mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga pada Rabu (06/05/2026). Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari jajaran pimpinan Bawaslu DIY dan berlangsung dalam dua sesi interaktif yang membahas konsep dasar demokrasi hingga praktik pengawasan pemilu.
Pada sesi pertama, Ketua Bawaslu DIY, Mohammad Najib memaparkan bahwa tidak semua negara yang menyelenggarakan pemilu dapat dikategorikan sebagai negara demokratis. Menurutnya, pemilu merupakan sarana pergantian kekuasaan yang dilakukan secara damai, namun dalam praktiknya belum sepenuhnya ideal.
“Demokrasi adalah sistem pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat, yang menekankan kedaulatan rakyat, partisipasi politik, serta kebebasan berpendapat,” ujar Najib. Ia juga menjelaskan bahwa demokrasi modern berkembang dari revolusi besar seperti Revolusi Prancis dan Amerika yang membawa nilai kesetaraan dan kebebasan.
Najib menambahkan bahwa kehadiran pemilu menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas politik tanpa kekerasan. Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam praktiknya masih terdapat tantangan, termasuk dalam hal kualitas kandidat dan dinamika politik yang belum sepenuhnya mencerminkan nilai demokrasi ideal.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa aktif mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari mekanisme pengawasan pemilu, partisipasi warga negara Indonesia di luar negeri, hingga isu perubahan regulasi pemilu. Najib menegaskan bahwa pengawasan pemilu tidak hanya dilakukan oleh lembaga resmi, tetapi juga sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.
“Pengawasan partisipatif menjadi kunci karena jumlah pengawas terbatas. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga integritas pemilu,” jelasnya.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Anggota Bawaslu DIY, Sutrisnowati, yang mengajak mahasiswa memahami konsep demokrasi dari perspektif hak dan kewajiban warga negara. Ia menekankan bahwa pemilu merupakan sarana paling damai dalam proses pergantian kepemimpinan.
“Demokrasi bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat melalui pemimpin yang dipilih,” ungkap Sutrisnowati.
Dalam diskusi, mahasiswa juga diajak merefleksikan pengalaman mereka sebagai pemilih, termasuk tantangan dalam mengenali calon dan maraknya disinformasi di media sosial. Sutrisnowati menyoroti bahwa pemilih pemula rentan terhadap hoaks dan cenderung mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan.
“Literasi politik menjadi penting. Jangan hanya bergantung pada media sosial, tetapi perlu diskusi dan mencari informasi yang valid,” tambahnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial dengan pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai bentuk checks and balances dalam demokrasi.
Kegiatan ini ditutup dengan penekanan pentingnya integritas individu dalam menjaga kualitas demokrasi. Mahasiswa didorong untuk mulai berkontribusi dari diri sendiri, baik sebagai pemilih yang cerdas maupun sebagai bagian dari masyarakat yang aktif mengawal proses demokrasi. Melalui diskusi ini, Bawaslu DIY berharap dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi generasi muda dalam pengawasan pemilu serta memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.
Foto: Sevy
Editor : Tim Humas Bawaslu DIY