Lompat ke isi utama

Berita

Jadi Dosen Tamu di UIN Sunan Kalijaga, Bawaslu DIY Ajak Mahasiswa Diskusi Kepemiluan

Ketua Bawaslu DIY Berdiskusi dengan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tentang Pemilu dan Demokrasi

Ketua Bawaslu DIY Berdiskusi dengan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tentang Pemilu dan Demokrasi

YOGYAKARTA – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu DIY) menjadi dosen tamu dalam kegiatan perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Kamis (07/05/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Bawaslu DIY, Mohammad Najib, yang menyampaikan materi mengenai demokrasi dan pemilu kepada mahasiswa.

Kegiatan dibuka oleh Hamim yang menyampaikan bahwa materi tentang demokrasi dan pemilu penting dipahami mahasiswa sebagai bekal di masa depan, khususnya bagi yang tertarik berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan.

“Hari ini ada dosen tamu dari Bawaslu DIY, ketuanya langsung. Materi hari ini bisa digunakan untuk masa depan, siapa tahu nanti ada yang berkecimpung di dunia politik,” ujar Hamim saat membuka kelas.

Dalam pemaparannya, Najib menjelaskan bahwa demokrasi dan pemilu merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Menurutnya, seluruh negara demokrasi menyelenggarakan pemilu, namun tidak semua pemilu berjalan secara demokratis.

“Semakin negaranya demokrasi, semakin baik kualitas penyelenggaraan pemilunya. Pemilu adalah cara damai untuk pergantian kekuasaan,” kata Najib.

Ia menjelaskan bahwa demokrasi merupakan sistem pemerintahan di mana kekuasaan berada di tangan rakyat melalui sistem perwakilan yang dipilih secara bebas. Demokrasi juga menekankan partisipasi politik, kesetaraan hak, serta kebebasan berpendapat dan bertindak.

Najib turut memaparkan sejarah perkembangan demokrasi yang bermula dari Athena pada abad ke-5 sebelum masehi. Pada masa awal, demokrasi belum bersifat inklusif karena hanya laki-laki yang memiliki hak berpartisipasi dalam pemerintahan, sementara perempuan, budak, dan warga asing belum memperoleh hak politik.

Menurutnya, demokrasi modern berkembang pesat setelah Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis, lalu semakin meluas setelah Perang Dunia II.

Dalam kesempatan tersebut, Najib juga menjelaskan sejumlah kelebihan demokrasi, di antaranya penghormatan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan partisipasi politik, akuntabilitas pemerintahan, stabilitas pembangunan, toleransi, serta musyawarah untuk mufakat.

“Dalam konsep demokrasi terdapat prinsip one person one vote one value. Semua suara rakyat memiliki nilai yang sama,” jelasnya.

Selain membahas demokrasi, Najib turut menguraikan fungsi pemilu sebagai mekanisme damai pergantian kekuasaan, sarana penyelesaian konflik secara demokratis, pemberi legitimasi kepada pemerintah, hingga media pendidikan politik masyarakat.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa pemilu memiliki sejumlah tantangan seperti biaya politik yang tinggi, potensi konflik, kompleksitas teknis penyelenggaraan, hingga risiko munculnya kandidat yang kurang berkualitas.

Diskusi berlangsung interaktif ketika mahasiswa mengajukan sejumlah pertanyaan terkait kelemahan demokrasi dan tantangan pemilu di Indonesia. Salah satu mahasiswa menanyakan mengenai kemunduran demokrasi yang terjadi saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Najib menekankan pentingnya pendidikan politik dan literasi media sosial di tengah perkembangan informasi digital.

“Meningkatkan pendidikan politik dan menghimbau masyarakat agar bijak menggunakan media sosial menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga kualitas demokrasi,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai demokrasi dan pemilu sekaligus mendorong generasi muda untuk lebih aktif dan kritis dalam kehidupan politik serta penguatan demokrasi di Indonesia.

Top of Form

Foto : Sevy

Editor : Tim Humas Bawaslu DIY

Bottom of Form

 

toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle