Lompat ke isi utama

Berita

Angkringan Demokrasi Bawaslu DIY Bahas Strategi Membaca Kerawanan Pemilu Sejak Dini

Ketua Bawaslu DIY mengajak mahasiswa berdiskusi perihal pemetaan kerawanan pemilu

Ketua Bawaslu DIY mengajak mahasiswa berdiskusi perihal pemetaan kerawanan pemilu

Yogyakarta — Pelaksanaan tahapan Pemilu membutuhkan persiapan yang matang dan pengawasan yang mampu membaca berbagai potensi kerawanan sejak dini. Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Angkringan Demokrasi Bawaslu DIY bersama Ketua Bawaslu DIY, Mohammad Najib yang digelar di Media Center Bawaslu DIY, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan diikuti sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Forum tersebut menjadi ruang diskusi bagi generasi muda untuk memahami berbagai tantangan dalam penyelenggaraan Pemilu sekaligus pentingnya pengawasan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam diskusi, peserta membahas sejumlah isu yang berpotensi menjadi kerawanan dalam setiap tahapan Pemilu. Persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan daftar pemilih, partisipasi pemilih, verifikasi peserta dan dukungan, penataan daerah pemilihan, persyaratan pendidikan, pengadaan dan distribusi logistik, hingga sengketa hasil Pemilu.

Ketua Bawaslu DIY menekankan bahwa pengawasan Pemilu tidak cukup dilakukan dengan melihat suatu peristiwa secara terpisah. Pengawas perlu memiliki kemampuan untuk membaca keterkaitan berbagai peristiwa dan potensi kerawanan yang muncul.

“Pengawasan tidak cukup hanya melihat satu peristiwa, tetapi perlu membaca pola, hubungan antarperistiwa, aktor, serta ekosistem informasi yang terbentuk,” ujar Ketua Bawaslu DIY.

Selain persoalan pada tahapan penyelenggaraan, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi pengawasan Pemilu. Ruang digital menjadi salah satu arena yang perlu mendapat perhatian karena berbagai informasi dapat menyebar secara cepat dan membentuk persepsi publik.

Dalam forum tersebut dibahas potensi munculnya hoaks, disinformasi, kampanye hitam, politisasi SARA, penggunaan akun anonim, hingga potensi koordinasi buzzer dalam membentuk opini publik.

Kondisi tersebut menuntut jajaran pengawas untuk tidak hanya memahami regulasi kepemiluan, tetapi juga mampu membaca dinamika informasi di ruang digital. Kemampuan mendeteksi informasi, melakukan verifikasi, serta memetakan potensi kerawanan menjadi bagian penting dalam strategi pengawasan.

“Pengawasan yang adaptif, berbasis data, kolaboratif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam mewujudkan Pemilu yang jujur, adil, transparan, dan berintegritas,” ungkapnya.

Diskusi juga menekankan pentingnya membangun pola kerja pengawasan yang sistematis. Setiap potensi kerawanan perlu diidentifikasi sejak awal, kemudian diverifikasi dan dipetakan untuk menentukan langkah pencegahan maupun penindakan sesuai dengan kewenangan Bawaslu.

Kehadiran mahasiswa dalam Angkringan Demokrasi menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pendidikan demokrasi dan meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap proses kepemiluan.

Mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai pemilih, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang dapat berkontribusi dalam mengawasi proses demokrasi. Terlebih, generasi muda memiliki kedekatan yang tinggi dengan teknologi dan media sosial sehingga memiliki posisi strategis dalam menghadapi tantangan demokrasi digital.

Melalui Angkringan Demokrasi, Bawaslu DIY terus mendorong terbentuknya ruang dialog yang terbuka antara penyelenggara Pemilu dan masyarakat. Pengawasan Pemilu pada akhirnya tidak dapat hanya mengandalkan jajaran pengawas, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Foto: Suwandi

Editor: Tim Humas Bawaslu DIY

toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle