Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu DIY Ajak Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Perkuat Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Bawaslu DIY Ajak Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Berdiskusi Mengenai Demokrasi dan Pemilu

Bawaslu DIY Ajak Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Berdiskusi Mengenai Demokrasi dan Pemilu

YOGYAKARTA – Badan Pengawas Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta (Bawaslu DIY) menggelar kegiatan konsolidasi demokrasi bersama mahasiswa Jurusan Psikologi Perkembangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi yang berlangsung di Kampus S2-S3 FITK pada Selasa (05/05/2026) ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman demokrasi sekaligus mempersiapkan pengawasan Pemilu 2029.

Kegiatan ini dipimpin oleh anggota Bawaslu DIY, Sutrisnowati, dan diikuti oleh sekitar sepuluh mahasiswa. Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat tema besar “Demokrasi dan Pemilu” serta peran generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi.

Dalam pemaparannya, Sutrisnowati menjelaskan bahwa pemilu merupakan mekanisme utama dalam demokrasi untuk melakukan pergantian kekuasaan secara damai dan konstitusional. Namun demikian, ia menekankan bahwa tidak semua pemilu otomatis berjalan demokratis tanpa dukungan integritas dan partisipasi publik.

“Demokrasi tidak hanya soal prosedur, tetapi juga substansi. Pemilu harus jujur, adil, dan mencerminkan kedaulatan rakyat secara nyata,” ujarnya.

Ia juga menguraikan bahwa demokrasi memberikan jaminan hak asasi, kebebasan berpendapat, serta kesempatan bagi warga negara untuk menentukan arah pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, pemilu menjadi sarana penting untuk memilih wakil rakyat sekaligus mengevaluasi kinerja pemimpin melalui mekanisme politik yang damai.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa sistem kepemiluan di Indonesia melibatkan berbagai lembaga, mulai dari Komisi Pemilihan Umum sebagai pelaksana teknis, Badan Pengawas Pemilihan Umum sebagai pengawas, hingga Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu sebagai pengawal etika penyelenggara pemilu.

Diskusi juga menyoroti perkembangan demokrasi Indonesia pasca reformasi yang dinilai mengalami kemajuan signifikan. Pemilu berlangsung rutin, relatif damai, dan mampu menghasilkan pergantian kekuasaan secara konstitusional. Tingkat partisipasi pemilih yang tinggi juga menjadi indikator kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti praktik politik uang, tingginya biaya kampanye, disinformasi, serta polarisasi sosial. Kompleksitas pemilu serentak juga menjadi beban tersendiri bagi penyelenggara dan masyarakat.

“Pemilu kita sudah baik secara prosedural, tetapi masih perlu perbaikan untuk mencapai demokrasi yang lebih substantif dan berintegritas,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa diajak untuk mengambil peran aktif sebagai bagian dari masyarakat sipil. Peran tersebut antara lain menjadi pemilih cerdas, menolak politik uang, bersikap kritis terhadap informasi, serta turut berpartisipasi dalam pengawasan pemilu.

Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi politik dan menjaga ruang publik yang sehat serta inklusif.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas Bawaslu sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu serta Rencana Strategis Bawaslu 2025–2029, yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat demokrasi substantif.

Melalui konsolidasi ini, Bawaslu DIY berharap dapat membangun kesadaran kritis generasi muda sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu, guna mewujudkan demokrasi yang berkualitas menuju Pemilu 2029.

Foto : Zulfikar

Editor : Tim Humas Bawaslu DIY

toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle