Fokuskan Pada Tantangan Pemilu Era Digital, Bawaslu DIY Gali Pemahaman Kepemiluan Mahasiswa
|
SLEMAN --Badan Pengawas Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta (Bawaslu DIY) kembali menggelar diskusi dalam program Konsolidasi Demokrasi dengan tema “Demokrasi dan Pemilu” di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis (21/5/2026). Kegiatan yang berlangsung diikuti mahasiswa Jurusan Kewarganegaraan PIAUD A tersebut membahas konsep demokrasi, sistem pemilu, hingga tantangan demokrasi di era digital.
Diskusi dipimpin oleh Bayu Mardinta Kurniawan selaku Koordinaor Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi bersama Tim Fasilitasi Konsolidasi Demokrasi Bawaslu DIY. Dalam pemaparannya, Bayu menjelaskan bahwa demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat.
“Demokrasi berasal dari kata demos dan kratos yang berarti kekuasaan rakyat. Sistem ini lahir untuk mencegah otokrasi dan menjamin hak asasi manusia,” jelas Bayu.
Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan demokrasi modern dipengaruhi oleh Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis yang menjadi tonggak penting lahirnya prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan politik.
Dalam sesi pemilu, peserta diberikan pemahaman mengenai fungsi pemilu sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang berlandaskan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil).
“Pemilu bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga menjadi mekanisme transfer kekuasaan secara damai, memberikan legitimasi pemerintahan, sekaligus sarana pendidikan politik masyarakat,” ungkapnya.
Diskusi turut membahas tiga keluarga besar sistem pemilu di dunia, yakni mayoritarian, proporsional, dan sistem campuran. Indonesia sendiri menggunakan sistem proporsional daftar terbuka, di mana pemilih dapat langsung memilih nama calon legislatif.
Bayu menjelaskan bahwa sistem proporsional terbuka memberikan ruang representasi lebih luas bagi masyarakat, meskipun tetap memiliki tantangan berupa fragmentasi partai politik.
Selain membahas sistem pemilu, materi juga menyoroti pentingnya kualitas dan integritas pemilu. Parameter pemilu demokratis meliputi inklusivitas, kompetisi yang sehat, penyelenggara profesional, hingga hasil pemilu yang dapat diterima seluruh pihak.
“Integritas pemilu adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya penyelenggara tetapi juga peserta pemilu dan pemilih,” tegas Bayu.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga dikenalkan berbagai jenis pelanggaran pemilu mulai dari pelanggaran administratif, kode etik, pidana pemilu, hingga pelanggaran hukum lainnya. Peran Bawaslu dalam mengawasi tahapan pemilu, menangani sengketa proses, serta mengawasi netralitas ASN, TNI, dan Polri turut menjadi pembahasan utama.
Memasuki pembahasan demokrasi di era digital, Bayu menyoroti dua sisi perkembangan teknologi terhadap demokrasi. Di satu sisi, platform digital membuka ruang partisipasi masyarakat yang lebih luas dan akses informasi politik yang lebih terbuka. Namun di sisi lain, era digital juga menghadirkan ancaman serius berupa disinformasi, hoaks, polarisasi, hingga manipulasi opini publik melalui media sosial.
“Era digital menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi demokrasi. Karena itu, literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks dan provokasi,” ujarnya.
Ia mengajak mahasiswa untuk menjadi pemilih cerdas dengan membiasakan cek sumber informasi, melakukan verifikasi fakta, memahami algoritma media sosial, dan aktif melaporkan hoaks.
Dalam pemaparannya, Bayu juga menyampaikan sejumlah fakta Pemilu 2024, di antaranya jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) nasional mencapai 204,8 juta pemilih dengan dominasi lebih dari 81 juta pemilih dari generasi Z dan milenial. Tingkat partisipasi pemilih nasional disebut mencapai sekitar 82 persen.
Di akhir diskusi, Bayu menegaskan bahwa kualitas demokrasi sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat yang aktif dan kritis.
“Demokrasi yang berkualitas membutuhkan pemilih yang cerdas dan aktif. Partisipasi masyarakat menjadi kunci terciptanya pemilu yang bermartabat dan berintegritas,” pungkasnya.
Foto : Yuda
Editor Tim Humas Bawaslu DIY