Tantangan Politik Modern Menjadi Fokus Pembahasan Mahasiswa dan Bawaslu DIY
|
YOGYAKARTA – Badan Pengawas Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta (Bawaslu DIY) kembali menggelar kegiatan Konsolidasi Demokrasi di ruang Media Centre Bawaslu DIY pada Selasa (12/5/2026). Kegiatan yang dipimpin oleh Agung Nugroho selaku Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu DIY tersebut diikuti Tim Fasilitasi Konsolidasi Demokrasi Sekretariat Bawaslu DIY bersama peserta magang dari UTY, UNISA, dan AMIKOM.
Dalam kegiatan tersebut, Agung memaparkan perjalanan panjang sejarah demokrasi modern mulai dari lahirnya gagasan kedaulatan rakyat hingga tantangan demokrasi di era digital saat ini.
“Demokrasi modern lahir dari kritik terhadap monarki absolut di Eropa dan berkembang melalui gagasan tentang hak kebebasan, kedaulatan rakyat, serta pembatasan kekuasaan negara,” jelas Agung.
Ia menjelaskan bahwa tokoh-tokoh seperti John Locke, Montesquieu, dan Jean-Jacques Rousseau menjadi fondasi lahirnya demokrasi modern melalui pemikiran tentang hak alamiah, pemisahan kekuasaan, dan kontrak sosial.
Menurut Agung, lahirnya demokrasi modern semakin menguat melalui Revolusi Amerika tahun 1776 dan Revolusi Prancis tahun 1789 yang membawa prinsip kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
“Dua revolusi besar tersebut menjadi fondasi penting demokrasi modern karena menegaskan bahwa kekuasaan berasal dari rakyat,” ujarnya.
Agung juga memaparkan perkembangan demokrasi pada abad ke-19 hingga abad ke-21, termasuk gelombang demokratisasi global dan tantangan baru yang dihadapi negara-negara demokrasi saat ini.
“Demokrasi modern hari ini tidak hanya berbicara soal pemilu, tetapi juga tentang hak asasi manusia, rule of law, transparansi, dan partisipasi warga,” katanya.
Dalam diskusi, peserta magang dari UNISA menanyakan apakah tingginya partisipasi masyarakat dan kebebasan berpendapat otomatis menunjukkan kualitas demokrasi yang baik.
Menanggapi hal tersebut, Agung menjelaskan bahwa partisipasi dan kebebasan merupakan syarat penting demokrasi, namun belum cukup untuk menciptakan demokrasi yang berkualitas.
“Partisipasi tinggi dan kebebasan berpendapat adalah syarat perlu, tetapi bukan syarat cukup. Demokrasi yang sehat juga membutuhkan pemilu yang jujur dan adil, penegakan hukum, akuntabilitas pemerintah, serta informasi yang sehat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa demokrasi dapat terlihat ramai secara prosedural, namun belum tentu sehat apabila dipenuhi praktik politik uang, disinformasi, hingga lemahnya pengawasan terhadap kekuasaan.
“Kalau partisipasi tinggi tetapi pilihan politik dibeli atau ruang publik dipenuhi hoaks, maka itu baru demokrasi ramai, belum tentu demokrasi berkualitas,” tegas Agung.
Dalam sesi diskusi lainnya, peserta dari UTY menyoroti fenomena kemunduran demokrasi atau democratic backsliding yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Agung menilai Indonesia masih berada dalam sistem demokrasi, namun mengalami stagnasi dan kemunduran pada beberapa aspek kualitas demokrasi.
“Indonesia tidak runtuh menjadi negara otoriter, tetapi kualitas demokrasinya mengalami penurunan dalam beberapa aspek,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa demokrasi Indonesia masih memiliki fondasi kuat seperti pemilu rutin, pergantian kekuasaan secara damai, kebebasan politik, dan pelaksanaan pilkada langsung. Namun di sisi lain, demokrasi juga menghadapi tantangan serius seperti oligarki politik, politik uang, dinasti politik, polarisasi masyarakat, hingga maraknya disinformasi di media sosial.
“Banyak analis menyebut demokrasi Indonesia semakin dipengaruhi elite politik dan ekonomi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga agar demokrasi tetap berpihak kepada rakyat,” kata Agung.
Menurutnya, masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada partisipasi masyarakat, integritas pemilu, kekuatan masyarakat sipil, serta reformasi partai politik.
Kegiatan konsolidasi demokrasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga kualitas demokrasi sekaligus memperkuat literasi politik di tengah tantangan era digital dan perkembangan informasi yang semakin cepat.
Foto : Heri
Editor : Tim Humas Bawaslu DIY